HAL-HAL YANG MERUSAK IMAN (PRASANGKA)

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya dari prasangkaan itu merupakan dosa.. (Q.S Al-Hujurat 49 : 12)

LANDASAN HUKUM (AL-Quran & Hadits)
Allah SWT memerintahkan untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat maka timbullah prasangka, prasangka yang baik ataupun yang tidak baik. Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik, bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya dari prasangkaan itu merupakan dosa.. (Q.S Al-Hujurat 49 : 12)

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata ini adalah sebuah berita bohong yang nyata. (Q.S An-Nur 24 :12)

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk, dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka jahanam bagi mereka. Dan (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Fath 48 : 6)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S Al-Baqarah 2: 216)

Hadits:
Hati-hati kalian dari prasangkaan (yang buruk) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalilan mencari-cari aurat atau cacat atau cela orang lain. Jagnan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebgaimana Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan atau bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini takwa itu di sini. (Beliau mengisyaratkan ka arah dadanya). Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesame muslim. Setiap muslim terhaap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian. (H.R Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya. (H.R Bukhari)
Hendaklah kamu senantiasa berbaik sangka kepada (senantiasa mengharapkan kebaikan dari) Allah sehingga maut merenggutmu. (H.R Muslim)
Aku perlakukan hambaKu sebagaimana sangkaannya terhadap-Ku. (H.R Bukhari dan Muslim)
Kalau kamu menyangka, maka jangan kamu nyatakan. (H.R Thabrani)

ASBABUN NUZUL
(Q.S Al-Hujurat 49 : 12) Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkaata Orang banyak menyatakan ayat ini turun perkenaan denga Salman al-Farisi. Suatu ketika Salman memakan sesuatu kemudian tidur mengorok. Seseorang yang mengetahui hal tersebut lantas menyebarkan perihal makan dan tidurnya Salman tadi kepada orang banyak. Akibatnya turunlah ayat ini.
(Q.S An-Nur 24 :12) Ayat-ayat ini berkenaan dengan tuduhan zina yang ditujukan kepada Aisyah dalam perang Bani Musthaliq. Saat itu Aisyah kehilangan kalungnya, lalu dia kembali untuk mencari kalung itu. Tanpa disadari, rombongan pasukan muslim telah meninggalkan aisyah. (H.R Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a)

LANDASAN TEORI
Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa arab disebut suudzhan, mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Bahkan terkadang kita membicarakan kepada orang lain. Padahal suudzhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan atau bukti merupakan perkara yang terlarang.
Zhan yang disebutkan dalam hadits adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seorang yang dituduh minum khamr padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda benar dan sebab yang zahir (tampak), maka harap berprasangka yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan atau keshalehan.
Beda halnya dengan seseorang yang terkenal di kalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan seperti keluar masuk tempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya.
Tatkala terjadi peristiwa itu di masa Nubuwwah, di mana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta bahwa istri Rasulullah Saw. yang mulia, shalehah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) Aisyah berzina dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Muaththal. Allah swt mengingatkan kepada hamba-hambaNya yang beriman agar tetap berprasangka baik dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut.
Sangkaan yang berdosa adalah sangkaan yang buruk. Oleh karena itu, prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Manusia, karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebagian manusia, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik. Oleh karena itu, sikap yang harus ditempuh ialah harus tidak menerima tuduhan itu berjalan mengikuti suara nafsu tersebut.
Selain berburuk sangka kepada sesama manusia, tidak jarang kita berprasangka buruk juga kepada sang pencipta, Allah SWT. Sebagai manusia, seharusnya kita tidak boleh so tahu, seringkali kita kecewa pada awalnya, tapi seiring berjalannya waktu kita malah bersyukur. Karena ternyata yang kita duga buruk, setelah kita jalani ternyata banyak hikmahnya lebih baik daripada yang kita duga.
Allah SWT Maha sayang (Arrahman-Arrahiim) kepada hambanya. Allah SWT tidak pernah dzalim kepada hamba-hambanya yang beriman. Allah SWT merancang apa yang terbaik menurutNya bukan menurut selera kita. Karena selera kita lebih dekat dengan nafsu. Oleh Karenn itu, jikalau ada kejadian yang tidak cocok dengan keinginan kita, dengan harapan kita, jangan berburuk sangka, terimalah dengan ridha.

HIKMAH
Hindarilah prasangka, karena prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta. Kepada seorang muslim yang secara zahir (tampak) baik agamanya serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berprasangka buruk. Bila sampai pada kita berita yang miring tentangnya maka tidak ada yang sepantasnya kita lakukan kecuali bertabayun, mencari informasi yang sebenarnya.
Ciri-ciri kualitas keislaman seseorang itu dilihat bagaimana kesanggupan menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kalau kita senantiasa berusaha mengendalikan hati, detak jantung normal, wajah cerah, lisan enak, dan badan sehat. Lebih dari itu, bergaul dengan siapa pun akan menyenangkan.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengenal potensi yang termahal dari hidup kita, yaitu hati kita sendiri. Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insyaAllah hidup ini menjadi indah dan penuh makna.
Hati adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan. Kita tidak bisa mengatur dan menata hati, kecuali dengan memohon pertolongan Allah agar dia selalu menjaga hati kita. Hati adalah pangkal kehidupan. Jika Allah memberi kita hati yang bening, kita akan mendapat banyak keuntungan dan bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan. Maka tak heran Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam selalu berdoa kepada Allah untuk di tetapkan dalam agama Allah (kebenaran yang Allah Ridhai)
Terus Yakinlah kepada Allah, yakin setiap takdir Allah SWT itu baik bagi seorang yang beriman. Dan sempurnakanlah ikhtiar. Jangan pernah kita berburuk sangka kepada Allah SWT, karena kita tidak mengetahui apa-apa tetapi Allah SWT Maha Tahu. Kita ini lemah, Allah Maha kuasa. Kita ini dzalim, dan Allah SWT Maha penyayang. Maka, nikmatilah episode apapun dengan meyakini Allah selalu bersama kita, berbaik sangka, dan sempurnakan ikhtiar.
Bisnis menjadi lancar dan sukses, menjadi pemimpin yang dicintai, suami yang dihormati, ayah yang disegani, menjadi apa pun bisa terwujud jika akhlak kita mulia di sisi Allah. Dan kuncinya adalah qalbun salim, yaitu hati yang selamat, selamat dari segala kezaliman. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.
Wallahu’alam.

DAFTAR PUSTAKA

Ensiklopedia Pengetahuan Al-Quran & Hadits. Tim Baitu Kilmah. Kamil Pustaka. Jakarta. 2013

Halal & Haram Dalam Islam. Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi. Oleh Alih Bahasa A.Muammal Hamidy. PT. Bina Ilmu Offset. Surabaya. Januari. 2007
Meraih Bening Hati Dengan Manajemen Qolbu. K.H. Abdullah Gymnastiar. Gema Insani. Jakarta. 2002.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Syaikh Muhammad Ali Ah-Shabuni dan Asbabun Nuzul karya Imam Jalaludi As-Suyuti. Jabal. Bandung. Januari 2013.
Video kajian Berburuk Sangka : https://www.youtube.com/watch?v=w90sZ7hITMI

Komentar