IMAN KEPADA NABI DAN RASUL ALLAH (Tugas Nabi dan Rasul)

“Nabi-nabi terdahulu diutus diperuntukkan bagi kaumnya sendiri (khusus). Sedangkan aku telah diutus untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

LANDASAN HUKUM (AL-Qur’an & Hadits)

Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara Nabi dan Rosul, jika kita melihat arti dari masing-masing. Nabi berarti pembawa berita sedangkan Rosul berarti Utusan yang membawa risalah Alloh. Namun baik nabi atau pun rosul memiliki tugas yang sama yaitu menyampaikan wahyu Alloh. Firman Allah:

فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ

maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan diantar manusia tentang perkara yang mereka perselishkan.” (Q.S Al-Baqarah 2: 213)

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (Q.S An-Nisa 4: 163-165)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Adi bin Zaid berkata : “Kami tidak mendapat keterangan apakah Allah menurunkan sesuatu kepada siapapun sesudah Musa.” Maka turunlah ayat ini sebagai peringatan atas pernyataan itu. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Pada riwayat lain dikemukakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan risalah kerasulan. Hal tersebut menyesakkan dadaku karena aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakan risalahku. Allah memerintahkan kepadaku untuk menyampaikannya dan kalau tidak, Allah akan menyiksaku.” Maka turunlah surat Al-maidah ayat 67 yang mempertegas perintah penyampaian risalah disertai jaminan akan keselamatannya. Diriwayatkan oleh Abus-Syaikh yang bersumber dari al-hasan

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S Al-Maidah 5:67)

Beriman kepada Nabi adalah syarat seseorang akan bisa menjalankan agama, karena sebelum menerima agama maka seseorang harus meyakini dan iman bahwa dia adalah utusan Alloh yang membawa risalah untuk mengajarkan agama kepada manusia. Maka jika ada orang yang mengaku Islam tetapi tidak beriman kepada Muhammad sebagai Nabi Alloh, hal itu merupakan kebohongan. Begitupun ketika orang menerima Al-qur’an tetapi menolak kenabiannya dengan menolak sunnah, maka itupun merupakan sebuah penistaan, seperti menerima sesuatu pemberian, tetapi tidak percaya kepada orang yang memberikannya.
Karena itu orang beriman akan mencukupkan dirinya dengan apa yang diajarkan oleh Nabi dalam urusan agama, tidak mengada-ada, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Sementara itu jika ada permasalahan yang belum terjawab maka jawabannya bisa diambil dengan cara ijtihad mengikuti kaidah-kaidah yang diambil pemahamannya dengan berpijak kepada qur’an dan sunnah, yang disebut dengan istilah ushululfiqh.

Karena itu beriman kepada Nabi dan mengiktui sunnahnya adalah konsekwensi yang harus dimiliki oleh seorang beriman kepada Alloh SWT (mu’min), yang mengakui kebenaran Islam. Coba perhatikan firman Alloh:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku, (maka) Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian. Dan Alloh maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Ali Imron :31)

Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: pernah pada suatu hari Nabi SAW bersama dengan para sahabat, kemudian malaikat jibril mendatanginya dan berkata : “Apa iman itu?” Nabi saw menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatnNya, kitab-kitabNya, bertemu denganNya, utusan-utusanNya, dan engkau percaya kepada hari pembalasannya.” (HR. Bukhari)
“Nabi-nabi terdahulu diutus diperuntukkan bagi kaumnya sendiri (khusus). Sedangkan aku telah diutus untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi Muhammad SAW menggambarkan para Rasul : “Mereka adalah laksana Pembina-pembina rumah, yang mana orang-orang terdahulu mendirikan rumah itu untuk orang-orang di belakang mereka, dan orang-orang yang di belakang mereka ini nantinya membangun pula rumah di atas fondamen orang yang terdahulu itu.”
Sebab itu, Rasul mememiliki kesamaan tugas atau dengan istilah lain, meraka mengaku suatu “wahdatur risalah illahiyah.” (kesatuan misi Ketuhanan). Tugas para Rasul tugas rohaniah, missi spiritual. Mereka bertugas memimpin manusia untuk mengenal Tuhannya dengan pengetahuan yang hak. Bertugas mengajar manusia tentang aqidah dan ibadah menurut garis Tuhan. Menuntun manusia dalam hidup duniawi mensucikan rohaniahnya, bebas dari perbudakan hawa nafsu, agar menjadi manusia berakhlak mulia. Tegasnya, Rasul itu bertugas memimpin manusia agar hidup sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat.
Tugas agung para rasul adalah mengajak manusia beribadah kepada Allah dan meninggalkan obyek sembahan selain Allah swt. Dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah merupakan dasar dan jalan dakwah para rasul seluruhnya. Bertugas menyampaikan kepada manusia agar selalu meluruskan mereka ke jalan Allah. Sesudah Allah menjelaskan nikmat karunia-Nya, maka Allah menegaskan kepada Rasulullah saw. Menumbuhkan iman dalam jiwa manusia atau membuat orang menjadi mukmin sesungguhnya di luar kemampuan Rasulullah saw. Menyampaikan syariat Allah kepada manusia dan menjelaskan agama yang diturunkan kepad manusia.
Setiap nabi itu akan datang sesudah nabi yang lain, untuk lebih menyempurnakan apa yang telah dibina oleh nabi yang sebelumnya itu. Jadi bagaikan memperbaiki bangunan, maka nabi yang baru datang itu seolah-seolah sebagai penerus dan penyempurna, sehingga bangunan itu benar-benar sempurna. Dengan kesempurnaan dan kelengkapan agama itu, maka habislah kenubuwatan dan selesailah tugas kerasulan.

HIKMAH

Manusia tadinya merupakan umat yang satu. Satu akidah dan satu tujuan amal perbuatan, yaitu untuk memperbaiki dan bukan untuk merusak, berbuat baik dan bukan berbuat jahat, berlaku adil dan bukan berbuat aniaya. Kemudian mereka berpaling dan mengerjakan sebaliknya, dan tidak ada lagi kesatuan akidah dan pendapat diantara mereka yang membawa kepada kebahagiaan mereka berselisih lantas bercerai-berai.
Untuk mengembalikan mereka kepada keadaan semula bersatu dalam kebenaran Allah swt, mengutus nabi-nabi, manusia pilihan agar membimbing mereka ke jalan yang benar, memberi petunjuk secukupnya atas kekeliruan yang diperbuatnya. Menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan taat bahwa mereka akan memperoleh balasan surga di hari kemudian, memperingatkan orang-orang yang ingkar dan durhaka bahwa mereka akan ditimpa siksa dan azab yang pedih di neraka jahanam. Sebagai penyempurna terakhir adalah junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Dan oleh sebab itu maka agama yang dibawa oleh beliau ini adalah sebagai perasaan atau intisari dari agama-agama yang telah lau, dakwahnya adalah dakwah yang sudah pasti akan kekal untuk selama-lamanya, karena di dalamnya terkandunglah unsur-unsur kehidupan dan tiang-tiang kemaslahatan duniawiah dan ukhrawiah.
Manakala kenubuwatan sudah selesai, maka dengan demikian habis pulalah risalah dan oleh karenanya setelah nabi Muhammad SAW itu tidak ada lagi seorang yang diangkat oleh Allah swt sebagai seorang nabi dan tidak terdapat pula orang yang diberi tugas sebagai rasul atau utusan, karena beliau saw adalah penghujung dari semua rasul Tuhan.
Sudah seharusnya sebagai ummat muslim, kita harus lebih mengenal nabi dan rasul yang merupakan utusan Allah. Mempelajari kisah-kisah nabi-nabi terdahulu, yang didalamnya terkandung banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Terutama di zaman sekarang dimana manusia mulai lupa siapa Tuhannya dan siapa Rasulnya.
Wallahu’alam.
DAFTAR PUSTAKA

Asbabun Nuzul “Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an”. K.H.Q Shaleh; H.A.A Dahlan. Prof. DR. H.M.D Dahlan. CV. Diponogoro. Bandung. 1993
Aqidah Islam “Pola Hidup Manusia Beriman”. Sayid Sabiq. CV. Diponogoro. Bandung. 2005
Ensiklopedia Pengetahuan Al-Qur’an & Hadits. Tim Baitu Kilmah. Kamil Pustaka. Jakarta. 2013
Pokok-Pokok Ilmu Tauhid. Jilid Pertama. A.Zakaria. Ibnazka Press. Garut. 2005

Komentar