IMAN KEPADA NABI DAN RASUL ALLAH

Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagaian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Q.S Al-Hadid 57: 7)

LANDASAN HUKUM (AL-Qur’an & Hadits)
Iman kepada para rasul Allah yaitu meyakini bahwa mereka itu adalah manusia pilihan Allah untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Mereka itu ma’sum, terjaga dan terpelihara dari berbuat durhaka kepada Allah, mereka pasti jujur dalam menyampaikan risalah Allah.
Berdasarkan firman Allah:
“Manusia itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan.” (Q.S Al-Baqarah 2: 213)
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah and ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Q.S An-Nahl 16: 36)
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S An-Nahl 16: 43)
“(Dan) kami tidak mengutus melainkan bagi umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak (mau) mengetahui.” (Q.S Saba 34: 28)
“Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (Q.S Fathir 35: 24)
“Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagaian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Q.S Al-Hadid 57: 7)

Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: pernah pada suatu hari Nabi SAW bersama dengan para sahabat, kemudian malaikat jibril mendatanginya dan berkata : “Apa iman itu?” Nabi saw menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatnNya, kitab-kitabNya, bertemu denganNya, utusan-utusanNya, dan engkau percaya kepada hari pembalasannya.” (HR. Bukhari)
“Nabi-nabi terdahulu diutus diperuntukkan bagi kaumnya sendiri (khusus). Sedangkan aku telah diutus untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

LANDASAN TEORI
Menurut hadits riwayat imam Ahmad, jumlah nabi itu ada 124.000 orang, sedangkan jumlah rasul ada 310 orang, tetapi yang ada dalam al-qur’an, yang disebut langsung namanya adalah 25 orang dan inilah yang wajib kita imani karena tidak bisa kita menetapkan si A seorang nabi atau si B rasul kecuali harus berdasarkan wahyu dari Allah.
Seorang muslim beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah memilih diantara uamat manusia sejumlah nabi dan rasul sebagai utusanNya kepada umat manusia untuk meyampaikan syariat agama Allah, untuk menyelamatkan manusia dari perselihan dan untuk mengajak manusia kepada kebenaran. Allah swt mengutus para nabi dan rasul untuk membawa kabar gembira kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang disediakan bagi mereka yang beriman dan memperingatkan mereka tentang akibat kekufuran (syirik). Mereka pun memberi teladan untuk bertingkah laku yang baik dan mulia bagi manusia, antara lain dalam bentuk ibadah yang benar, akhlak yang terpuji dan istiqamah (berpegang teguh) terhadap ajaran Allah swt.
Ada yang mendefinisikan bahwa nabi itu orang yang mendapatkan wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia. Sedangkan rasul adalah orang atau laki-laki yang menerima wahyu dan diwajibkan untuk menyampakannya kepada yang lain. Nabi secara bahasa berarti mengabarkan. Nabi disebut nabi karena dia mengabarkan dari Allah atau karena dia diberi kabar oleh Allah. Nabi secara istilah adalah seorang laki-laki merdeka dimana Allah mengabarkan syariat sebelumnya kepadanya agar dia menyampaikan kepada orang-orang yang disekitarnya dari kalangan pemilik syariat tersebut. Rasul secara bahasa adalah orang yang mengikuti berita orang yang mengutusnya. Rasul secara istilah adalah laki-laki meredeka yang diutus oleh Allah dengan syariat dan Dia memerintahkannya untuk menyampaikannya kepada orang yang tidak mengetahui atau menyelisihinya dari kalangan orang-orang dimana dia diutus kepada mereka.
Semua rasul yang pernah diutus Allah sepanjang sejarah manusia, sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia biasa juga. Mereka makan, minum, menikah, sakit, mati. Mereka pun berekata-lata dan berbicara menurut bahasa dari bangsa atau ummat dimana mereka diutus. Artinya, tidak pernah Allah mengutus seorang Rasul dari jenis malaikat atau dari bangsa jin, bahkan tidak pernah rasul-rasul dahulu sebelum Muhammad SAW diutus bukan kepada bangsa atau sukunya sendiri.Namun mereka semua adalah pilihan Allah dengan tugas yang mulia untuk menyampaikannya risalah Allah kepada manusia.

HIKMAH
Manusia-manusia yang seperti para nabi dan rasul sebagaimana yang diuraikan di atas itu, sama sekali tidak mungkin kalau tidak terjaga dari perbuatan dosa. Mereka itu pasti terpelihara dari segala macam perbuatan maksiat, tidak akan meninggalkan kewajiban, tidak pula akan melakukan keharaman. Serta memiliki sifat-sifat yang merupakan akhlak yang luhur yang oleh ummatnya dapat digunakan sebagai tuntunan yang baik, dapat dijadikan cermin yang tertinggi yang perlu sekali dituruti jejaknya oleh seluruh ummat manusia, karena sudah semestinya bahwa manusia itu berdaya upaya untuk mencapai atau memperoleh kesempurnaan yang kiranya sudah ditentukan untuk masing-masing manusia itu.
Para nabi dan rasul itu adalah manusia pilihan Allah untuk menyampaikan rislahNya kepada ummat manusia. Perbedaan nabi dan rasul ialah Nabi diutus dengan tidak membawa syari’at yang baru, sedangkan Rasul diutus dengan membawa syari’at yang baru. Tidak ada satu ummat di muka bumi ini kecuali ada padanya seorang pemberi peringatan. Dalam mengimananinya, kita tidak boleh membeda-bedakan para nabi dan rasul. Semuanya wajib diimani karena semuanya itu adalah manusia pilihan Allah.
Allah telah melebihkan para rasul diantara yang satu dengan yang lainnya dan diberikan mukjizat sesuai dengan tuntunan zamannya. Untuk mengetahui kisah para nabi secara rinci, silahkan baca al-qur’an dalam surat-surat yang memuat kisah mereka secara khusus. Kisah para nabi hendaklah dijadikan ‘ibrah (pelajaran) oleh kita, ummat Muhammad’.
Ummat islam dijadikan ummat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat. Umat islam adalah umat yang mendapat petunjuk dari Allah SWT sehingga mereka menjadi ummat yan adil dan pilihan dan akan menjadi saksi atas keingkaran orang-orang yang kafir. Ummat islam harus senantiasa meneggakkan keadilan serta membela yang benar dan melenyapkan yang bathil.
Wallahu’alam.

DAFTAR PUSTAKA

Asbabun Nuzul “Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an”. K.H.Q Shaleh; H.A.A Dahlan. Prof. DR. H.M.D Dahlan. CV. Diponogoro. Bandung. 1993
Aqidah Islam “Pola Hidup Manusia Beriman”. Sayid Sabiq. CV. Diponogoro. Bandung. 2005
Ensiklopedia Pengetahuan Al-Qur’an & Hadits. Tim Baitu Kilmah. Kamil Pustaka. Jakarta. 2013
Lelaki Shalih “Imanniyah & Ibadah”.A. Abdurrahman Ahmad. Pustaka Nabawi. Cirebon.2000
Pokok-Pokok Ilmu Tauhid. Jilid Pertama. A.Zakaria. Ibnazka Press. Garut. 2005

Komentar